Tuesday, January 5, 2010

*SELAMAT TAHUN BARU 2010*



明けましておめでとうございます。今年も宜しくお願いします。
Akemashite omedetou gozaimasu. Kotoshimo yoroshiku onegaishimasu.

Tahun baru ini, untuk kedua kalinya saya merayakan tahun baru ala Jepang di kampung halaman suami, Mimasaka City, Okayama Prefecture. Dengan pertimbangan jadwal libur kantor suami, tarif tol, arus mudik dan arus balik, kami berangkat tanggal 29 Desember tengah malam dan kembali ke Kuwana tanggal 3 Januari pagi-pagi sekali. 

***
Pulang kampung = rally makan + santai?
Acara tahun baru keluarga kami, seperti sudah bisa saya bayangkan dari pengalaman saya setiap pulang kampung, sebagian besar diisi dengan makan dan leha-leha. Tentu saja senang donk bisa bertemu saudara dan kerabat dalam keadaan santai. Tapi pada suatu titik saya benar-benar bisa merasa capek makan dan santai-santai. Lha koq bisa capek makan? Ceritanya, "rally" dimulai dari bersama-sama (para wanita) menyiapkan makanan, lalu bersama-sama menyantap makanan, setelah itu bersama-sama cuci piring, dilanjutkan 'coffee time' sambil nonton TV dan makan kue-kue, dan ditutup dengan cuci piring kue dan cangkir. Dalam satu hari, rangkaian ini diulang sebanyak 3 kali: sarapan, makan siang dan makan malam. Karena banyaknya jenis makanan yang dibuat, butuh waktu agak lama untuk menyiapkannya sehingga jeda antara satu rangkaian dengan yang lainnya tidak terlalu lama. Perasaan baru selesai menyusun piring kering ke dalam lemari, tarik nafas panjang 3 kali, bilang, "hhhh... kenyang", koq okaasan sudah keluarin lagi bahan2 makanan untuk session makan berikutnya ya??!? Hahaha... buat saya, spending liburan di rumah mertua terasa benar-benar seperti rally makan. Sehari nikmat, dua tiga hari mabok juga lho.

Selain capek makan dan leha-leha, dulu-dulu saya capek canggung juga. Sesantai-santainya di rumah orang, pasti lebih santai di rumah sendiri donk. Oh ya, mertua saya mempunyai 3 anak lelaki, suami saya yang paling tua. Semua anaknya sudah menikah, ada satu adik suami saya yang sudah mempunyai seorang anak. Kalau lengkap, sekali kumpul meja makan dipenuhi minimal 9 orang. Seringnya lebih karena ada 2 orang tante suami saya yang sudah menjanda, yang terkadang memilih untuk pulang kampung ke keluarga asal ketimbang ke keluarga almarhum suaminya. Artinya, dapur selalu dipenuhi oleh minimal 5 orang wanita, ibu mertua saya dan ketiga menantunya plus tante yang semuanya ingin membantu menyiapkan makanan. Para lelaki sih biasanya sibuk mengerjakan urusan di luar rumah. Waktu acara mempersiapkan masakan ini seringnya saya merasa serba canggung, kebingungan mau bantu apa, mungkin kehadiran saya malah bikin bingung dan cuma menuh-menuhin dapur saja (^_^). Diantara para menantu, saya yang paling muda, jadi bisa dibilang anak bawang deh. Nah, karena kali ini si anak bawang sedang hamil besar, seringnya cuma disuruh duduk saja. Biasanya saya menolak, tapi kali ini saya santai-santai saja, berusaha se-relax mungkin meskipun harus melawan rasa nggak enak karena sementara yang lain sibuk saya malah minum teh hangat dan cemal-cemil sambil nonton TV, hehehe. Kalaupun diminta bantu, tugasnya hanya membagikan sumpit pada setiap tempat duduk (bahh, bahkan tidak pantas disebutkan "pekerjaan"). Begitu yang lain sudah pulang, baru deh ada "lowongan" buat saya membantu okaasan di dapur, hihihi.

***
30 Desember: 餅つき Mochi tsuki (membuat mochi)
Acara bikin mochi ini sebenarnya ajang kumpul keluarga juga karena semua orang harus berperan. Mochigome (餅米/ beras ketan) yang sudah direndam air semalaman, dikukus hingga matang, lalu selagi panas dimasukkan ke dalam lesung dan dipukul-pukul dengan godam kayu. Siapa saja boleh ikut memukul mochi, saya dan menantu yang lain ikut-ikutan memukul mochi hanya untuk formalitas karena bawa godam-nya saja sudah berat. Yang menumbuk betulan otousan dan ketiga anak lelakinya secara bergantian, sementara okaasan bertugas membolak balik mochinya. 

suami saya, otousan dan okaasan
(maaf muka otousan saya blur karena belum ijin)

Setelah mochi ditumbuk rata, selagi panas mochi dibentuk bundar-bundar dalam ukuran kecil. Mochi bundar ini akan digunakan untuk makan o-zouni, makanan tahun baru. Sewaktu membentuk mochi dengan tangan, terkadang secara tidak sengaja terbentuklah gelembung udara di bawah permukaan mochi. Gelembung udara itu disebut お金袋 (okanebukuro: kantong uang), dijaga jangan sampai pecah karena dipercaya bisa membawa rejeki di tahun baru.

segini loh besarnya marumochi

***
31 Desember: 年越しそば Toshikoshi soba
Sebelum pergantian tahun, sekitar jam 23:30, semua anggota keluarga berkumpul lagi di meja makan untuk makan toshikoshi soba (soba pergantian tahun). Orang Jepang percaya toshikoshi soba ini harus dihabiskan sebelum pukul 00:00, bila tidak dianggap 'bad luck'. Dibanding jenis mie-mie yang lain, soba termasuk jenis yang elastisitasnya kurang alias gampang putus. Dengan makan toshikoshi soba, orang Jepang berharap kesusahan di tahun itu juga terputus, tidak berlanjut di tahun yang baru. Bentuk soba yang panjang melambangkan harapan umur panjang di tahun yang baru.

toshikoshi sobaku, dengan tempura udang dan nori

***
Tanggal 1 Januari: おせち料理 O-sechi, お雑煮 O-zouni dan お屠蘇 O-toso
Pagi-pagi tanggal 1 Januari, setelah merapikan diri, mertua saya dan anggota keluarga yang beragama Shinto berlutut di depan 神棚 (kamidana/ altar shinto) untuk berdoa, setelah itu berkumpul di meja makan. Sebelum menyantap o-zouni, o-sechi dan o-toso, otousan sebagai kepala keluarga menyampaikan pidato kecil untuk setiap anak-anaknya. 

O-zouni adalah salah satu makanan 'wajib' tahun baru di Jepang, bentuknya berupa soup yang mengandung mochi. Tiap daerah di Jepang mempunyai tradisi o-zouni yang berbeda-beda, dari bentuk mochi yang digunakan, rasa kaldunya dan juga isi soupnya. Ada daerah yang memakai mochi berbentuk balok, ada yang mochinya dibakar dulu dimasukkan kedalam soup. Di daerah rumah mertua saya, mochi yang digunakan adalah 丸餅 (marumochi/ mochi yang berbentuk bundar), kuahnya dibuat dari kaldu cumi-cumi kering (surume ika) dan serutan katsuo kering (katsuo: sejenis tuna), dibumbui garam dan sedikit kecap asin. Lalu sebagai pelengkap, soup tersebut dibubuhi ohitashi bayam (bayam rebus yang dimarinated dengan kecap asin, mirin, dan sedikit gula) dan kemudian ditabur dengan hana katsuo (serutan katsuo kering yang besar). Di keluarga Yamashita, biasanya o-zouni dimakan setiap pagi pada tanggal 1 Januari sampai 4 Januari. Jadi mulai tgl 31 Desember sampai tanggal 3 Januari, saban malam ibu mertua saya absen: berapa buah mochi yang akan dimakan setiap orang esok paginya. Saya sih biasanya cuma kuat makan 1-2 buah saja sekali makan.
 
siap menyantap o-zouni dan o-sechi yang terhidang

Selain o-zouni, makanan tahun baru yang lain adalah o-sechi. Berbagai jenis makanan dimasak dengan rasa asin-manis yang pekat (agar tahan lama, karena o-sechi dimakan berhari-hari), lalu dimasukkan ke dalam kotak. Tahun lalu okaasan membuat o-sechi sendiri, tapi tahun ini karena tidak sempat beliau memilih untuk beli jadi saja. Menjelang akhir tahun banyak sekali toko atau supermarket yang melayani penjualan o-sechi, saya terkejut ketika mengetahui bahwa di konbini (convenience store) pun melayani pemesanan o-sechi. Setiap jenis makanan dalam o-sechi ryouri mengandung makna sendiri-sendiri, kalau mau baca, bisa ngintip wikipedia

o-sechi ryouri

Sumpit yang digunakan ketika tahun baru berbeda bentuknya dengan sumpit hari biasa, bentuknya lancip di ujung dan pangkalnya, disebut 祝い箸 (iwaibashi/ sumpit selamatan). Setiap tahun baru okaasan sudah menyiapkan sumpit untuk setiap orang, dengan tulisan nama masing-masing di pembungkus sumpitnya.

iwaibashi

O-toso adalah sake khusus tahun baru. Orang Jepang percaya, bila satu orang minum o-toso pada saat tahun baru maka dalam setahun tidak ada anggota keluarga yang sakit, bila semua anggota keluarga minum, maka dalam setahun orang sedesa akan sehat walafiat (ya, ya, ada-ada saja ya, namanya juga kepercayaan). Yang jelas kemarin cuma otousan saja yang minum karena yang lain malas minum sake pagi-pagi.

***
Kembali ke Kuwana, mobil penuh dengan oleh-oleh dan bahan makanan pemberian saudara dan mertua. Saat berkumpul bersama keluarga berarti juga saat saling memberi oleh-oleh. Oleh-olehnya rata-rata berupa kue khas dari daerah tempat tinggal masing-masing. Semula saya kuatir bagaimana menghabiskan kue-kue itu dalam waktu singkat (karena biasanya tidak tahan lama), tapi dalam hitungan hari koq sudah banyak juga yang lenyap, hahahahaa..... Sekarang saya benar-benar kuatir mengatur nafsu makan yang semakin menggila. Sudah nggak mau janji-janji lagi mengatur berat badan deh, karena sekarang sudah dalam tahap takut lihat timbangan, he he he.


0 comments: